Ada perjalanan yang mengubah cara kita memandang dunia, tapi ada juga yang mengubah cara kita memaknai cinta. Itulah yang dirasakan oleh pasangan jamaah yang mengikuti umroh plus turki tahun ini perjalanan yang bukan hanya mempertemukan mereka dengan sejarah Islam, tapi juga dengan sisi terdalam hati mereka sendiri.
Setelah menunaikan ibadah umroh di Makkah dan Madinah, mereka melanjutkan perjalanan menuju Istanbul. Di pesawat, Bu Santi menggenggam tangan suaminya, Pak Wahyu, sambil berbisik pelan, “Alhamdulillah, kita sampai juga di sini, Pak. Setelah bertahun-tahun menabung.” Pak Wahyu hanya tersenyum, matanya berkaca-kaca. Perjalanan ini memang sudah lama mereka impikan, sebagai bentuk syukur setelah puluhan tahun hidup bersama dalam suka dan duka.
Begitu tiba di Istanbul, udara dingin langsung menyapa. Langit biru muda dan menara-menara masjid tampak seperti lukisan hidup. “Subhanallah, indah sekali,” kata Bu Santi sambil menatap panorama kota dari bus. Pemandu wisata menjelaskan bahwa Istanbul adalah satu-satunya kota di dunia yang berada di dua benua — Asia dan Eropa — dan di sinilah peradaban Islam pernah berdiri dengan gemilang.
Perhentian pertama mereka adalah Masjid Biru. Begitu masuk, cahaya matahari menembus kaca jendela tinggi, memantulkan warna biru lembut ke seluruh ruangan. Bu Santi berdoa lama. Dalam sujudnya, ia mengingat masa muda, saat hidup sederhana namun penuh cinta dan perjuangan. Sementara Pak Wahyu duduk di pojok masjid, menatap langit-langit kubah dengan tatapan dalam. “Masjid ini dibangun oleh sultan yang masih muda, tapi cita-citanya besar,” katanya pelan. “Semoga anak-anak kita juga tumbuh dengan semangat seperti itu.”
Dari sana mereka berjalan ke Hagia Sophia, bangunan bersejarah yang kini kembali menjadi masjid. Di dalamnya, mereka merasakan aura sejarah yang kuat. Suara azan menggema di bawah kubah megah, dan Bu Santi meneteskan air mata. “Saya merasa seperti kembali ke masa lalu, Pak,” katanya. “Rasanya Islam itu begitu besar, begitu indah.”
Sore itu, mereka berdua menikmati cruise di Selat Bosphorus. Angin laut berhembus lembut, menebarkan aroma asin yang segar. Kapal melaju perlahan, membelah air biru yang memisahkan Asia dan Eropa. Dari dek atas, mereka melihat masjid, istana, dan rumah-rumah kuno berjajar di tepi pantai. Pak Wahyu merangkul istrinya, berkata lirih, “Lihat, Bu. Dulu para sultan mungkin juga berdiri di sini, menatap laut yang sama.”
Hari berikutnya, perjalanan membawa mereka ke Bursa, kota tempat berdirinya Kesultanan Utsmani pertama kali. Di Makam Osman Gazi, keduanya berdoa lama. “Lihat, Bu,” ujar Pak Wahyu, “dari makam yang sederhana inilah, Islam pernah memimpin dunia.” Bu Santi mengangguk, matanya berkaca. “Kalau niatnya karena Allah سبحانه وتعالى, sekecil apa pun langkahnya bisa jadi sejarah besar.”
Dari Bursa, mereka melanjutkan perjalanan menuju Cappadocia. Suhu di sana lebih dingin, tapi suasananya begitu hangat. Saat fajar menyingsing, mereka bersiap menaiki balon udara. Ketika balon mulai naik perlahan, langit berubah jingga. Dari atas, lembah batu menjulang dengan bentuk-bentuk unik, dan ratusan balon lain melayang di udara.
Bu Santi menggenggam tangan suaminya erat. “Terima kasih, Pak,” katanya pelan. “Dulu saya hanya lihat pemandangan ini di TV.”
Pak Wahyu menatap ke arah matahari yang terbit di balik bukit, lalu menjawab dengan suara bergetar, “Kita sampai di sini bukan karena mampu, Bu… tapi karena Allah سبحانه وتعالى memampukan.”
Di momen itu, mereka berdua hanya diam. Angin pagi menyapa wajah, udara tipis terasa menenangkan. Di antara langit dan bumi, mereka merasa begitu dekat dengan Sang Pencipta. Seakan seluruh perjalanan hidup mereka — suka, duka, tawa, air mata — berpuncak pada satu titik: rasa syukur yang dalam.
Sebelum kembali ke Tanah Air, mereka sempat mengunjungi Topkapi Palace di Istanbul. Di sana tersimpan peninggalan Rasulullah ﷺ — pedang, jubah, dan sehelai rambut beliau. Saat melihatnya, Bu Santi tak bisa menahan air mata. Ia menunduk, berdoa dalam hati agar keluarga mereka selalu dijaga dalam iman dan cinta.
Malam terakhir, mereka duduk di tepi Galata Bridge, memandang lampu kota yang berkilau di atas air Bosphorus. “Perjalanan ini nggak cuma bikin saya makin cinta sama Ibu,” kata Pak Wahyu sambil tersenyum, “tapi juga makin cinta sama Allah سبحانه وتعالى.”
Program umroh plus turki ini memang dirancang bukan hanya untuk beribadah dan berwisata, tapi juga untuk mempererat hubungan hati baik dengan pasangan, keluarga, maupun dengan Sang Pencipta. Karena di setiap langkah, ada doa. Di setiap tempat, ada sejarah yang mengajarkan makna kehidupan.
Turki bukan hanya negeri yang indah, tapi juga tempat di mana cinta dan iman bertemu dalam keheningan yang suci. Dan bagi Pak Wahyu dan Bu Santi, perjalanan ini bukanlah akhir, tapi awal dari babak baru: menjalani hidup dengan cinta yang semakin tulus, dan keyakinan yang semakin dalam.

Leave a Reply