Aku masih ingat, perjalanan ini berawal dari sebuah postingan Instagram “Kelana Haramain Travel”. Videonya menampilkan anak-anak muda shalat di Masjidil Aqsho dengan latar Kubah Batu yang berkilau emas. Komentar terbanyak di video itu berbunyi: “Bismillah, semoga aku bisa ke sana.”
Dan tanpa diduga, beberapa bulan kemudian aku jadi salah satu dari mereka yang berdiri di halaman Masjidil Aqsho.
Sebagai bagian dari generasi yang tumbuh dengan notifikasi dan deadline, aku tak menyangka bisa menapaki tempat sebermakna ini. Bukan sekadar perjalanan religi, tapi perjalanan mencari jati diri.
Perjalanan kami dimulai dari Makkah. Suara lantunan talbiyah masih terngiang di telinga, membawa suasana khusyuk di setiap langkah thawaf. Setelah menyelesaikan ibadah Umroh, rombongan kami melanjutkan ke Madinah untuk menenangkan hati di Raudhah, tempat yang disebut sebagai taman surga.
Tapi perjalanan belum selesai — yang paling berkesan justru datang berikutnya: menuju Yerusalem. Dalam hati aku berbisik, “Ini bukan sekadar liburan, ini ziarah iman.”
Begitu menjejakkan kaki di Al-Quds, suasananya berbeda. Dingin, tenang, dan penuh sejarah. Kubah emas Masjidil Aqsho bersinar di bawah matahari sore, membuat siapa pun yang melihatnya ingin bersujud.
Ketika Doa dan Haru Menyatu
Saat shalat di dalam kompleks Masjidil Aqsho, ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Di sinilah Rasulullah ﷺ melakukan Isra’ Mi’raj — sebuah perjalanan spiritual yang menjadi tonggak penting dalam sejarah Islam.
Aku teringat ucapan pemandu kami: “Setiap langkah di sini adalah doa. Setiap napas adalah pahala.” Dan benar saja, suasana di dalam masjid begitu menenangkan. Orang-orang dari berbagai negara berkumpul, berbeda bahasa tapi satu tujuan: beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى.
Di luar masjid, anak-anak Palestina bermain bola sambil tertawa lepas. Mereka tumbuh di tengah penjajahan, tapi semangatnya tak pernah padam. Aku tersenyum — mereka adalah simbol kekuatan yang sesungguhnya.
Bagi banyak milenial dan Gen Z, perjalanan spiritual seperti ini adalah sesuatu yang baru. Tapi justru karena itu, pengalaman Umroh plus Aqso terasa sangat relevan. Kita hidup di zaman serba cepat, tapi sering kehilangan arah.
Di sinilah kita belajar melambat, menenangkan pikiran, dan kembali pada nilai-nilai yang abadi. Umroh Plus Aqsho bukan sekadar “healing”, tapi soul awakening trip — perjalanan membangunkan jiwa.
Program dari Kelana Haramain Travel benar-benar mengerti kebutuhan anak muda zaman sekarang. Fasilitas modern tetap ada, tapi esensinya tetap spiritual: menghadirkan momen refleksi di setiap destinasi.
Pulang dengan Hati yang Penuh Cahaya
Saat pesawat meninggalkan langit Palestina, aku menatap keluar jendela. Kubah Masjidil Aqsho tampak kecil di kejauhan, tapi pengaruhnya terasa besar di dalam hati.
Aku pulang bukan hanya membawa oleh-oleh, tapi membawa kesadaran baru: hidup ini bukan tentang seberapa cepat kita berlari, tapi seberapa dalam kita mengenal tujuan.
Dan buat kamu yang sedang mencari arah, mungkin inilah panggilanmu. Jangan tunggu “nanti”, karena panggilan Allah سبحانه وتعالى selalu datang di waktu yang tepat.
Rasakan sendiri keajaiban Umroh plus Aqsho, perjalanan spiritual yang mengubah cara pandang, menenangkan jiwa, dan membuatmu jatuh cinta lagi pada Islam dengan cara yang paling indah.

Leave a Reply